Sunday, 29 May 2011

Pergi Mu Andalucia

Menelusuri liku perjalanan mu , Andalucia
Airmata menghiba sedih , menitis laju , mendayu lesu
Mana kah perginya keagungan mu ?
Mana kah wajah kegemilangan mu satu waktu dulu ?

Begitu gagah ... begitu perkasa Panglima Tariq
Membakar bahtera , membakar semangat Sang Perajurit
Mengemudi bala tentera hingga ke Gibraltar di bukit
Dengan kalimah " Tak Kembali atau Syahid "

Di dadamu ... di dadamu itu telah tercatit
Semangat anak bangsa melakukan tauhid
Sang Sasterawan , Sang Cendikiawan , Sang Pahlawan kembali bangkit
Bersatu jiwa , bersatu hati pada Yang Wajib

Kau kegemilangan , kesejahteraan , keharmonian
Unggul , utuh di Persada Eropa tanpa tentangan
Mercu tanda Al Hambra bahan sanjungan
Mesjid Cordova madrasah ilmuan

Semuanya nadi tubuh mu
Cahayamata mu
Simfoni indah di telinga mu
Melodi buat diri mu

Tapi kini ....
Ianya tiada lagi
Ianya telah pergi
Hilang ditelan zaman tak kunjung kembali
Al Hambra lemah terkulai tak mampu berdiri
Di pukul Sang Badai tanpa henti

Andalucia ... kini kau terus pergi
Pergi meninggalkan kami
Bersama memori , bersama sejarah mu tersendiri
Apakah akan ada peristiwa Andalucia ke dua kali ?


Saturday, 28 May 2011

Seungkap Kata Kahlil Gibran

Sekali lagi laut mempertemukan kita dengan pantai ini
Dalam jalinan jutaan gelombang yang beriringan
Dalam bertaut lepas , berpagut dan bebas mengungkapkan kata kata di hari ini
Bukan kata kata yang ingin ku ungkap
Tapi getaran hati untuk berkata
"Aku masih cinta dan sayang pada mu"


Ketika cinta memanggilmu maka dekatilah dia
Walau jalannya terjal dan berliku
Kerna kau akan menikmati keindahan cinta yang terpancar dari rona wajah kekasih hatimu


----- Kahlil Gibran

Hati

Hati ... mengertilah
Hati ... merunduklah
Hati ... merendahlah
Hati ... kembalilah

Hati ... kau indah
Hati ... kau suci jilah
Hati ... kau bersabarlah
Hati ... kau ke mana ?

Lalu ....
Apa yang kau cari ?
Apa yang kau ingini ?
Apa yang kau tangisi ?

Pulanglah ... Pulanglah ....

Friday, 27 May 2011

Tika Air Cinta Mencecah Kaki

Bila mengharung samudera cinta
Kehidupan bisa terbelah dua
Bisa kita menjadi keindahan
Mampu pula menjadi beban

Tika air cinta mencecah kaki mu
Renungilah langit nan biru
Tatapilah mentari yang satu
Muga terang perjalanan berliku

Bila gelora cinta mendatang
Jadikan malam sebagai teman
Agar bintang menjadi penerang
Muga hati tabah dan tenang

Kala siang menjenguk kembali
Mendaratlah ke dataran ini
Sematlah pengalaman di hati
Menjadi kompas perjalanan nurani

Thursday, 26 May 2011

Pabila pena dan kalam mulai menari

Hari ini , pertama kali menulis kembali setelah 6 tahun menyepi . Walhal sebelum ini aku sering menulis di medan maya ini. Tetapi atas sebab kesibukan , ku tinggalkan jauh jauh segalanya hinggalah tiba waktu di mana hati ingin memulakan tariannya semula. Aku mulai menggerakkan jejari dan pena mengikuti gerak kalam ku.

Bukanlah seorang penulis yang tegar tetapi aku senang meluahkan segala yang tersurat dan tersirat yang dihasilkan oleh kalamku melalui pena gersang ini . Itulah aku.

Ku mulai canggong tarian penaku ini perihal kehidupan . Kehidupan manusia .... kehidupan bermasyarakat ataupun individu. Semuanya tertulis dalam sarung kehidupan walaupun mahkluk itu sekecil zarah maupun sebesar mentari .... semuanya pasti melalui sejarah perjalanan kehidupan.

Apakah erti sebuah kehidupan ? Apa itu sebuah kehidupan ? Aaaahhhhh .... bingung. Berbagai istilah , terjemahan , pengertian , penghuraian , dan sebagainya yang semusimnya telah ku dengari . Hidup itu untuk apa ? Mengapa kehidupan itu dicipta ?

Setiap insan di alam ini pasti , akan pasti dan sudah pasti menghuraikannya dengan cara tersendiri . Ikut hitungan dan ungkapan masing masing . Terpulanglah buat kita semua , pengertian yang bagaimana yang harus diikuti , di pegang dan di teladani . Setiap insan mempunyai haknya yang tersendiri , tidak boleh dicampuri dan harus dihormati oleh insan lainnya . Apa pun yang penting ...... janganlah setiap peran yang kita mainkan menjadi satu bentuk kezaliman , penindasan , penghinaan dan sebagainya buat insan lain ataupun kelompok yang lain . Kerana bila kita mulai melakukan peranan kehidupan yang mulai terkeluar dari batas kehidupan dan kemanusiaan maka tak ubah seperti tergelincirnya bumi dari peredaran orbitnya di garis orbitnya sendiri . Maka jika itu terjadi sudah pasti tercipta satu 'hal' yang akan membawa kemudaratan padanya dan makhluk yang lain. Kehidupan adalah satu 'wilayah' atas setiap makhluk dengan cara tersendiri untuk meterjemahkannya . Kita teruskan dengan cara kita dan biarlah insan lain meneruskannya dengan cara mereka sendiri . Buatlah apa yang dirasakan terbaik asal ianya tidak memudaratkan insan dan kelompok lainnya .

"Hiduplah seperti Bunga Sakura  .... kata pujangga Jepun. Hiduplah seperti lilin yang menerangi kegelapan .... istilah pujangga kita . Hiduplah seperti Si Pheonix ... kata pujangga negeri Cina dan berbagai bagai lagi perumpamaan perumpamaan oleh manusia di dunia sejak berzaman lampau perjalanannya.

Walau apa pun kata kata atau perumpamaan yang ada ...... Apakah setiap dari kita benar benar sudah melakukan pengabdian dan penghambaan sejati pada kehidupan ?

Aku masih tertanya tanya pada diriku sendiri ?


Pabila kalam mulakan irama lagunya
Pena mulai menari menurut rentaknya